Headline

Dampak Kerugian Akibat Bencana Sumbar Capai Rp 1,84 T, 235 Meninggal Dunia

×

Dampak Kerugian Akibat Bencana Sumbar Capai Rp 1,84 T, 235 Meninggal Dunia

Sebarkan artikel ini
MENCEKAM : Salah satu titik bencana galodo yang melanda Silaing Bawah, Kota Padang Panjang.(pemko padang panjang)

Padang, Sindotime–Dampak besar bagi masyarakat terus ditimbulkan akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat sejak akhir November 2025. Bahkan hingga Selasa (9/12), jumlah korban meninggal mencapai 235 orang, dengan 204 jenazah telah berhasil diidentifikasi, sementara 30 lainnya masih belum diketahui identitasnya. Situasi ini meninggalkan duka mendalam bagi ratusan keluarga, terlebih karena masih ada 95 warga yang dinyatakan hilang dan 112 lainnya mengalami luka-luka.

Total warga terdampak tercatat sebanyak 247.762 jiwa, dan 20.474 orang harus mengungsi karena rumah mereka tidak lagi dapat dihuni.

Kerusakan material akibat banjir dan longsor juga sangat signifikan. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memperkirakan total kerugian mencapai Rp 1,84 triliun, mencakup kerusakan pada infrastruktur publik, tempat tinggal warga, fasilitas layanan dasar, lahan pertanian, hingga aktivitas ekonomi masyarakat yang praktis terhenti.

Baca juga :Transportasi Perintis, Solusi Vital Pemulihan Daerah Terdampak Bencana di Sumatera

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Arry Yuswandi, menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi yang terjadi. Ia menegaskan bahwa pemerintah bersama TNI, Polri, Basarnas, tim medis, dan relawan terus bekerja tanpa henti untuk melakukan pencarian korban, memberikan bantuan logistik, serta membuka kembali akses ke wilayah yang terputus. Banyak daerah menjadi sangat sulit dijangkau karena kerusakan jalan dan jembatan.

Curah hujan ekstrem yang memicu banjir bandang dan longsor juga merusak infrastruktur vital. Sebanyak 147 unit jaringan telekomunikasi rusak sehingga sejumlah wilayah kehilangan sinyal dan tidak bisa melaporkan kondisi terkini. Selain itu, 172 ruas jalan serta 46 jembatan mengalami kerusakan berat, menghambat distribusi bantuan dan mobilitas tim penyelamat. Fasilitas publik pun terdampak, termasuk 153 rumah ibadah, 66 fasilitas kesehatan, 28 kantor pemerintahan, dan 170 sekolah yang terpaksa menghentikan aktivitas pelayanan.

Kerusakan juga melanda sektor pertanian, yang merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat setempat. Ribuan hektare sawah, ladang, kebun, dan kolam ikan hancur atau tenggelam, menyebabkan para petani kehilangan hasil panen yang telah dipersiapkan berbulan-bulan. Kondisi ini berpotensi mengganggu stabilitas pangan di sejumlah wilayah dalam jangka panjang.