Nasional

Pentingnya Nilai-Nilai Islam Berkemajuan Sebagai Pondasi dalam Kelola Dakwah dan AUM

×

Pentingnya Nilai-Nilai Islam Berkemajuan Sebagai Pondasi dalam Kelola Dakwah dan AUM

Sebarkan artikel ini
ARAHAN : Ketum PP MUhammdiyah, Haedar Nashir memberikan sambutan.(pp muhammadiyah)

Jawa Tengah, Sindotime—Nilai-nilai Islam Berkemajuan menjadi fondasi utama dalam pengelolaan dakwah dan seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Prinsip ini bukan sekadar slogan, tetapi menjadi kerangka berpikir, orientasi gerakan, sekaligus pijakan ideologis dalam menjalankan misi Muhammadiyah di berbagai sektor.

Baca juga :211,44 Gram Sabu dan 4.707,7 Gram Ganja Dimusnahkan Bersama

Penegasan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, pada Senin (8/12), saat memberikan sambutan dalam acara Pengukuhan Direksi RS PKU Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Dalam pandangannya, Muhammadiyah sesungguhnya telah menyediakan perangkat ideologis yang sangat kaya, sehingga tidak perlu mengadopsi ideologi dari luar untuk mengelola organisasi maupun AUM.

Baca Juga  Lewat Fellowship Jurnalisme Indonesia Emas PWI Usulkan Jurnalis Kompeten dapat Insentif

Haedar menjelaskan bahwa nilai Islam Berkemajuan dan berbagai perumusan pemikiran Muhammadiyah telah melahirkan seperangkat pedoman normatif yang dapat menjadi acuan gerak. Di antaranya Khittah Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), Kepribadian Muhammadiyah, serta Risalah Islam Berkemajuan. Dokumen-dokumen tersebut bukan hanya memuat prinsip dasar, tetapi juga mampu diterjemahkan ke dalam praktik pengelolaan organisasi.

Saat membahas sepuluh poin Kepribadian Muhammadiyah, Haedar menekankan bahwa karakter Muhammadiyah bersifat implementatif dan mencerminkan watak wasathiyyah—bersikap moderat dan berada pada posisi tengah. Karena itu, ia mengajak seluruh warga persyarikatan untuk menjadikan nilai moderasi ini sebagai cara pandang dalam mengambil keputusan, termasuk dalam menerapkan konsep amar ma’ruf nahi munkar.