Menurut Haedar, konsep amar ma’ruf nahi munkar dalam Muhammadiyah memiliki karakter tersendiri yang menekankan keteladanan dan pendekatan yang bijak. Ia mengingatkan agar prinsip tersebut tidak ditafsirkan memakai kacamata ideologi lain, karena Muhammadiyah memiliki pemahaman yang lebih moderat dan kontekstual terhadap ajaran tersebut.
Lebih jauh, Haedar mengulas kembali latar sejarah penyusunan Kepribadian Muhammadiyah. Dokumen ini lahir pada masa setelah bubarnya Partai Masyumi. Banyak tokoh Masyumi kembali ke Muhammadiyah dan awalnya membawa pola pikir serta gaya pengelolaan organisasi politik ke dalam tubuh Muhammadiyah. Pendekatan politik itu, menurut Haedar, sempat membuat dakwah dan AUM kurang berkembang karena tidak selaras dengan karakter Muhammadiyah sebagai gerakan sosial-keagamaan.
Melalui Kepribadian Muhammadiyah, para pendiri dan perumusnya berupaya membangun kembali identitas gerakan yang berkarakter tengahan, berbasis pada nilai keislaman yang mencerahkan, bukan pendekatan politis. Karena itu, Haedar berharap Kepribadian Muhammadiyah terus menjadi rujukan dan karakter nyata bagi seluruh warga dan pimpinan dalam menjalankan dakwah dan AUM.(*/zoe)
Selanjutnya :Gempa 4,7 SR Guncang Kabupaten Solok, Dipicu Sesar Sumani





