Usai mendapatkan informasi tersebut, timnya langsung bergerak ikut menyusuri sungai Batang Anai untuk membantu proses pencarian korban.
“Awalnya kami mencari korban yang hanyut di Padang Panjang, namun karena dapat informasi bocah hanyut, langsung tim kita turunkan untuk ikut melakukan pencarian bocah yang hanyut tersebut,” akunya.
Untuk tim yang diturunkan berjumlah sebanyak dua Landing Craft Rubber Boat (LCR) atau perahu karet dan tim Polairud juga menurunkan 2 perahu karet.
Dalam proses pencarian, tim juga sudah menggunakan peralatan aqua eye, sebuah perangkat sonar genggam canggih yang digunakan oleh tim SAR (Search and Rescue) dan petugas tanggap darurat untuk mendeteksi dan menemukan korban hilang di bawah air di danau, laut, atau sungai. Namun hingga kini belum ada petunjuk keberadaan korban.
Baca juga :Bantu Masyarakat Terdampak, Pemkab Padang Pariaman Distribusikan Air Bersih ke Warga
Selain itu, kondisi debit air yang sering berubah-ubah, juga ikut menjadi tantangan bagi tim dalam melakukan pencarian.
Meski demikian, sesuai dengan SOP, tim akan menjalani tugas dalam pencarian selama sepekan, jika diperlukan, upaya pencarian bisa jadi diperpanjang. “Tergantung perintah pimpinan pak, kalau diperpanjang, maka kita akan penambah waktu pencarian,” katanya.
Warga sekitar, Hendra menyebut, pada awal kejadian itu, korban pergi mandi bersama rekan-rekannya usai melaksanakan shalat Jumat di Masjid. Ini usai mendapatkan makanan Jumat berkah di masjid tersebut.
Namun pada saat berenang, murid kelas V SDN 28 Batang Anai tersebut berkelakar dengan temannya dan mandi hingga ke tengah sungai. Tapi naas, korban terseret arus Batang Anai sehingga tidak sempat menyelamatkan diri. Apalagi korban juga tidak pandai berenang.






