Agam, Sindotime—Budi daya ikan nila dengan sistem keramba jaring apung di Danau Maninjau kembali mengalami pukulan berat. Gelombang cuaca ekstrem yang terjadi sejak November 2025 di wilayah Kabupaten Agam memicu peristiwa kematian ikan dalam skala besar. Data terbaru mencatat total ikan mati mencapai 1.428,73 ton, dengan nilai kerugian ekonomi diperkirakan menembus Rp 32,86 miliar.
Baca juga :Bantu Warga Terdampak Bencana, IKTD dan IKM Bengkulu Salurkan Bantuan
Fenomena alam ini dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang disertai angin kencang, yang menyebabkan terjadinya pembalikan massa air atau upwelling di perairan Danau Maninjau, khususnya di Kecamatan Tanjungraya. Dalam kondisi tersebut, air dari lapisan dasar danau yang bersuhu lebih rendah, miskin oksigen, serta mengandung gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida terdorong naik ke permukaan. Akibatnya, ikan yang berada di keramba tidak memperoleh oksigen yang cukup untuk bertahan hidup.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Agam, Rosva Deswira, menyebut penurunan kadar oksigen terlarut berlangsung sangat cepat sehingga ikan tidak memiliki waktu untuk beradaptasi. “Cuaca ekstrem memicu terjadinya upwelling. Kondisi ini membuat kadar oksigen di perairan anjlok drastis dan berujung pada kematian massal ikan di KJA,” ujarnya, Sabtu (21/12).
Kasus kematian ikan tercatat menyebar di berbagai nagari yang berada di sekitar Danau Maninjau, antara lain Sungaibatang, Tanjungsani, Duo Koto, Maninjau, dan Kotogadang Anamkoto. Ratusan petani keramba terdampak langsung, mengingat sektor budi daya ikan nila merupakan sumber pendapatan utama bagi masyarakat di kawasan tersebut.
Rosva menambahkan, persoalan ini tidak semata-mata disebabkan faktor cuaca, tetapi juga dipicu oleh tekanan ekologis yang semakin berat. Jumlah keramba jaring apung di Danau Maninjau dinilai telah melampaui daya dukung lingkungan. Akumulasi sisa pakan dan limbah organik dari kotoran ikan mengendap di dasar danau, memperburuk kualitas air dan meningkatkan produksi gas beracun yang memperparah dampak upwelling.
Baca juga :Selamatkan Tesso Nilo, Tumbangkan Sawit dan Pulihkan Hutan





