Agam, Sindotime—Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Kabupaten Agam sejak penghujung November 2025 telah meninggalkan dampak kemanusiaan yang sangat serius. Setelah melalui proses pendataan dan verifikasi berlapis, jumlah korban jiwa akibat bencana tersebut dipastikan mencapai 163 orang. Selain itu, hingga kini masih terdapat 38 warga yang dinyatakan belum ditemukan.
Baca juga :Tanggap Darurat Berakhir, R3P Mulai Dilakukan Demi Percepatan Recovery
Sejalan dengan kondisi lapangan yang semakin sulit dan berisiko, Pemerintah Kabupaten Agam secara resmi menghentikan operasi pencarian dan penyelamatan korban terhitung mulai Senin, 22 Desember 2025. Penghentian operasi dilakukan setelah mempertimbangkan faktor keselamatan petugas, keterbatasan akses lokasi, serta adanya persetujuan dari pihak keluarga korban.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Agam, Roza Syafdefianti, menjelaskan bahwa angka korban tersebut merupakan hasil akhir dari proses validasi data yang dilakukan secara intensif bersama pemerintah nagari, aparat keamanan, serta instansi teknis terkait. Validasi ini dilakukan untuk memastikan tidak terjadi kekeliruan pendataan.
Menurut Roza, pada tahap awal jumlah korban sempat tercatat lebih tinggi. Namun setelah dilakukan penelusuran ulang, ditemukan sejumlah data ganda serta perubahan status korban, sehingga jumlah korban meninggal yang benar-benar terkonfirmasi ditetapkan sebanyak 163 jiwa.
Wilayah terdampak bencana tersebar di beberapa kecamatan, dengan tingkat kerusakan dan korban terbanyak berada di Kecamatan Palembayan, Malalak, Tanjungraya, Lubuk Basung, dan Palupuah. Bencana yang terjadi didominasi oleh banjir bandang, disertai tanah longsor dan peristiwa warga terseret arus.
Baca juga :Peran Aktif Bundo Kanduang Kabupaten Solok dalam Pemberdayaan, Pembinaan dan Pelestarian Ditunggu





