Palembayan tercatat sebagai wilayah paling parah terdampak, khususnya Nagari Salareh Aia dan daerah sekitarnya. Banyak korban berasal dari kelompok rentan, seperti anak-anak dan lanjut usia, yang berada di lokasi saat bencana terjadi secara tiba-tiba.
Selain korban meninggal dan hilang, Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Agam juga melaporkan masih adanya jenazah yang belum berhasil diidentifikasi. Jenazah tersebut terdiri dari 18 korban dalam kondisi utuh dan lima lainnya berupa bagian tubuh. Sebagian korban telah dimakamkan secara massal, sementara sisanya masih disimpan di ruang pendingin RSUD Lubuk Basung untuk keperluan identifikasi lanjutan bersama pihak kepolisian dan rumah sakit.
Baca juga :Ketidakadilan Kebijakan Transportasi: AKDP Dikorbankan, Pariaman Ekspres Diistimewakan
Dalam dua pekan ke depan, pemerintah daerah akan mengalihkan fokus penanganan bencana pada tahap pemulihan awal. Kegiatan prioritas meliputi pembersihan material longsor dan endapan lumpur di ruas jalan, serta penyempurnaan jembatan darurat yang hingga saat ini masih bersifat sementara dan rawan rusak.
Cadangan Pangan Daerah Kritis
Di sisi lain, perpanjangan masa tanggap darurat bencana turut memicu persoalan serius di sektor ketahanan pangan. Kabupaten Agam kini menghadapi keterbatasan stok Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD), sementara kebutuhan masyarakat terdampak bencana masih tinggi.
Hingga Selasa, 23 Desember 2025, total bantuan beras yang telah disalurkan di wilayah Agam mencapai 79,79 ton. Namun, cadangan pangan yang tersisa di gudang daerah kini berada pada level sangat minim.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam, Rosva Deswira, menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2025, CPPD Agam telah disalurkan sebanyak 18 ton. Bantuan tersebut digunakan untuk menghadapi dua kondisi rawan pangan, yakni akibat kekeringan dan gagal panen, serta bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November lalu.
Baca juga :Status Tanggap Darurat Tanah Datar Diperpanjang hingga 27 Desember 2025





