Padang Pariaman, Sindotime-Di tengah derasnya perubahan zaman dan tekanan globalisasi, Padang Pariaman memilih berdiri di atas pijakan yang kuat: budaya. Di bawah kepemimpinan Bupati Padang Pariaman Dr. John Kenedy Azis, SH, MH, kebudayaan tidak ditempatkan sebagai simbol semata, melainkan dijadikan arah utama pembangunan daerah. Walau masa kepemimpinannya masih terbilang singkat, langkah-langkah nyata yang diambil menunjukkan visi yang tegas dan berkelanjutan—menjadikan budaya Minangkabau sebagai identitas, kekuatan sosial, sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi.
Berbagai kebijakan dan program dirancang dengan pendekatan langsung ke masyarakat. Budaya tidak hanya dihadirkan dalam seremoni, tetapi dihidupkan kembali dari nagari dan korong sebagai ruang utama aktivitas sosial dan ekonomi warga.
“Padang Pariaman 100 Festival”: Menggerakkan Daerah Lewat Budaya
Salah satu kebijakan strategis yang menjadi penanda arah baru pembangunan adalah peluncuran program “Padang Pariaman 100 Festival”. Program ini bukan sekadar agenda hiburan, melainkan strategi terpadu yang menggabungkan pelestarian budaya, penguatan ekonomi kreatif, dan promosi daerah.
Melalui penyelenggaraan ratusan festival di berbagai nagari, pemerintah daerah membuka ruang partisipasi luas bagi masyarakat untuk menghidupkan kembali seni tradisi, adat istiadat, serta kuliner khas Minangkabau. Di saat yang sama, festival ini mendorong lahirnya inovasi lokal dan perputaran ekonomi masyarakat.
“Setiap nagari memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Jika dikelola dengan baik, budaya bukan hanya warisan, tetapi juga sumber kesejahteraan,” menjadi semangat yang terus digaungkan Bupati JKA.
Festival Nagari: Budaya Tumbuh dari Masyarakat
Pendekatan berbasis nagari menjadi bukti bahwa pembangunan budaya dilakukan dari bawah. Berbagai tradisi yang sempat jarang ditampilkan kembali hadir dalam festival nagari, seperti layang-layang, bajulo-julo, batagak gala, batagak kudo-kudo, batagak rumah gadang, gasiang, malamang, juadah, tulak bala, silek, hingga ulu ambek.





