Sejumlah festival yang telah terlaksana dan mendapat sambutan luas antara lain Festival Juadah Nagari Toboh Gadang Barat yang mengangkat kembali kuliner tradisional langka sekaligus menggerakkan UMKM dan seni tradisi; Festival Tuah Sepakat II di Lubuk Alung yang dimotori generasi muda dengan pertunjukan tari, randai, dan gandang tasa; Festival Tani Nagari Padang Toboh Ulakan yang memadukan budaya pertanian dengan seni pertunjukan; Festival Nagari Lareh Nan Panjang yang memperlihatkan kreativitas lintas usia; serta Festival Anak Nagari Kampung Galapuang, Ulakan Tapakis (3–9 November 2025), yang menyuguhkan silat tradisional, tambua tasa, pasambahan adat, bazar UMKM, inovasi pertanian, layanan kesehatan, hingga hiburan rakyat.
Seluruh rangkaian ini menegaskan bahwa budaya hidup karena masyarakatnya, bukan karena instruksi semata.
Pengakuan Warisan Budaya di Tingkat Nasional
Upaya pelestarian budaya Padang Pariaman juga membuahkan hasil konkret di tingkat nasional. Pada 10 Oktober 2025, di Gedung The Tribrata Jakarta, tiga tradisi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda nasional, yakni Maniliak Bulan, Malacuik Marapula, dan Indang Tigo Sandiang.
Dengan penambahan tersebut, jumlah WBTB Padang Pariaman kini mencapai 15, melengkapi warisan sebelumnya seperti Tabuik, Indang Piaman, Ulu Ambek, Gandang Tasa, Malamang, Bungo Lado, dan Batagak Kudo-kudo.
Tak berhenti di situ, pada 21 Agustus 2025, Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan Tapakis resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, mempertegas posisi Padang Pariaman sebagai salah satu pusat penting sejarah dan perkembangan Islam di Minangkabau.
Mauluik Gadang: Tradisi Religius dalam Skala Besar
Momentum budaya religius juga mendapat perhatian khusus melalui penyelenggaraan perdana “Padang Pariaman Mauluik Gadang”. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini digelar secara kolosal oleh pemerintah daerah dan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Beragam kegiatan seperti lomba qasidah, zikir sarafal anam, tabligh akbar, festival malamang, festival bungo lado, makan bajamba, hingga shalawat dulang diikuti OPD, sekolah, masyarakat ranah dan rantau, serta dihadiri pemerintah provinsi dan kabupaten/kota se-Sumatera Barat. Melihat dampak sosial dan ekonomi yang signifikan, Mauluik Gadang ditetapkan sebagai agenda tahunan daerah.
Babudaya Minang dalam Aktivitas Harian






