Lebih lanjut, Desindra memaparkan bahwa letak Sumbar di kawasan ekuator serta posisinya yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia menyebabkan suplai uap air ke wilayah ini sangat besar. Ditambah suhu muka laut yang relatif hangat, kondisi tersebut memperbesar peluang terjadinya cuaca ekstrem sehingga kesiapsiagaan semua pihak menjadi keharusan.
Sementara itu, dari sudut pandang pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat, Koordinator Umum Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sumbar, Hidayatul Irwan, mengajak warga untuk lebih peka terhadap sinyal-sinyal alam dan berperan aktif menjaga lingkungan.
“Ancaman itu sudah nyata dan dampaknya sudah kita rasakan. Kalau kita menjaga alam, alam akan menjaga kita. Sumatera Barat ini iklimnya basah, hujan akan selalu ada,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membiasakan diri memantau informasi cuaca resmi dari BMKG, menyiapkan tas siaga di tingkat keluarga, serta meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar sebagai langkah konkret mitigasi bencana.
BMKG sendiri memperkirakan musim hujan di Sumatera Barat masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan dengan karakter curah hujan yang fluktuatif. Masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor, diimbau tetap waspada, menghindari aktivitas di sekitar sungai saat hujan lebat, menyiapkan tas siaga, serta rutin memantau peringatan dini cuaca. Kesiapan sejak awal diharapkan mampu menekan risiko bencana dan menjaga keselamatan bersama sepanjang awal tahun 2026.(*/zoe)





