Sedikitnya empat nagari di Kecamatan Tanjung Raya tercatat mengalami kerusakan parah. Pasar Maninjau menjadi salah satu lokasi terdampak terburuk, di mana aktivitas ekonomi terhenti total akibat lapak pedagang tertutup lumpur dan akses distribusi barang terputus.
BPBD mencatat sumber material banjir berasal dari kawasan Kelok 25 dan Kelok 28 ruas Kelok 44, tepatnya di Jorong Kuok III Koto, Nagari Matua Mudiak, Kecamatan Matur. Longsoran dari perbukitan tersebut membentuk jalur lurus yang mengarah langsung ke kawasan Maninjau dan tepian danau, sehingga menjadi lintasan utama banjir bandang.
Akibat bencana ini, jalur utama Lubuk Basung–Maninjau–Bukittinggi tidak dapat dilalui. Badan jalan tertutup lumpur dan bebatuan dengan ketebalan puluhan sentimeter. Hingga Jumat sore, akses tersebut masih ditutup total bagi seluruh kendaraan.
Sejumlah alat berat telah dikerahkan untuk membuka kembali jalur, terutama di ruas Simpang Empat Maninjau menuju Kantor Camat Tanjung Raya. Namun upaya pembersihan sering terhenti karena hujan lebat dan longsor susulan.
“Material longsoran masih sangat banyak dan kondisi tanah labil, sehingga penanganan membutuhkan waktu,” kata Abdul Gofur.
Selain jalan, beberapa jembatan dan fasilitas umum juga terancam. Pembersihan material di Jembatan Muaro Pisang, Jorong Pasa Maninjau, masih berlangsung. Rencana pembangunan jembatan darurat di Jorong Bancah belum dapat direalisasikan sebelum akses utama terbuka.
Kapolsek Tanjung Raya AKP Muzakar menyebutkan bahwa pengerukan sungai kerap sia-sia karena banjir susulan kembali membawa material baru. Sejumlah fasilitas vital seperti SMAN 1 Maninjau, Kantor Camat, Mapolsek, dan Lapas Maninjau kini berada dalam status siaga tinggi.





