Sumbar

Bencana Hidrometeorologi jadi Ancaman Perekonomian Sumbar 2026

×

Bencana Hidrometeorologi jadi Ancaman Perekonomian Sumbar 2026

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI : Finansial dan pertumbuhan perekonomian daerah yang terancam mengalami perlambatan di 2026 ini.(kemenkeu)

Padang, Sindotime-Prospek ekonomi Sumatera Barat pada 2026 diperkirakan berada dalam fase yang menantang. Tekanan dari faktor iklim dan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi dinilai akan menahan laju aktivitas ekonomi daerah. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sumbar tahun 2026 bergerak melambat, terutama akibat terganggunya sektor-sektor utama yang selama ini menopang perekonomian, dengan pertanian sebagai sektor paling terdampak.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Mohamad Abdul Madjid Ikram, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Sumbar tahun depan diperkirakan hanya berada di kisaran 3,3 hingga 4 persen. Angka ini menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dibandingkan target pertumbuhan 2025 yang dipatok mencapai 4,9 persen. Perlambatan tersebut mencerminkan tekanan struktural yang dihadapi ekonomi daerah, khususnya dari sisi produksi.

Menurut Madjid, perubahan pola cuaca ekstrem dalam setahun terakhir telah meningkatkan risiko bencana banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah. Dampaknya tidak hanya bersifat lokal, tetapi menjalar ke sistem distribusi dan rantai pasok, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat ikut terganggu. Kondisi ini menuntut kewaspadaan dan respons kebijakan yang lebih terkoordinasi dari pemerintah daerah maupun pelaku usaha.

Baca Juga  Longsor Besar, Akses Padang-Bukittinggi Via Lembah Anai Ditutup

Tekanan ekonomi Sumbar juga tercermin dari perkembangan inflasi yang relatif tinggi. Saat ini, inflasi Sumbar tercatat sebesar 5,15 persen dan menjadi salah satu yang tertinggi di tingkat nasional, hanya berada satu tingkat di bawah Provinsi Aceh. Bank Indonesia mengidentifikasi dua faktor utama yang mendorong lonjakan inflasi tersebut.

Faktor pertama berasal dari sisi penawaran, yakni terganggunya produksi pangan akibat cuaca ekstrem yang terjadi pada pertengahan tahun. Penurunan produksi komoditas utama seperti beras, bawang merah, dan cabai menyebabkan pasokan di pasar menyusut, sehingga harga di tingkat konsumen mengalami kenaikan yang cukup tajam.

Baca Juga  Banjir Bandang dan Longsor di Agam, Bukti Kerentanan Infrastruktur dan Kesiapsiagaan

Faktor kedua dipicu oleh tingginya permintaan dari luar daerah. Produk pangan asal Sumatera Barat, terutama beras dan cabai, mengalami peningkatan penyerapan oleh daerah lain seperti Riau, Kepulauan Riau, dan DKI Jakarta, bahkan menembus pasar ekspor ke Malaysia. Selain itu, kebutuhan pasokan beras dan cabai untuk mendukung operasional Rumah Makan Padang di Pulau Jawa turut memperketat ketersediaan komoditas tersebut di pasar lokal.