Padang, Sindotime-Percepatan penanganan dampak banjir dan longsor di berbagai wilayah Sumbar menjadi kebutuhan mendesak. Hal ini disebabkan pola cuaca sepanjang tahun yang terus berubah dan berpotensi menghambat proses rehabilitasi apabila tidak segera ditangani secara terencana dan terukur.
Ia menjadi penekanan Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Muhidi, mengingat pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pendataan, terutama bagi warga terdampak yang hingga kini belum tercatat secara resmi. Untuk itu, Muhidi secara khusus mengingatkan agar kelompok rentan seperti tenaga pendidik, siswa, dan fasilitas pendidikan segera melaporkan kondisi mereka kepada aparatur pemerintah setempat.
Muhidi menjelaskan, DPRD Sumbar bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah menggelar rapat koordinasi lintas sektor guna mempercepat penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P). Dokumen strategis tersebut ditargetkan rampung dan siap difinalisasi pada 8 Januari, sehingga pelaksanaan pemulihan dapat segera dimulai tanpa jeda waktu yang panjang.
Menurutnya, proses penyusunan R3P dilakukan dengan berpacu pada dua faktor utama, yakni waktu dan kondisi alam. Selama tidak terjadi kendala administratif maupun teknis, dokumen tersebut akan langsung ditindaklanjuti dalam bentuk kegiatan nyata di lapangan.
Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memaparkan proyeksi cuaca Sumatera Barat sepanjang tahun 2026. Pada periode Januari hingga Februari, hujan diperkirakan relatif ringan, namun tetap memiliki potensi memicu bencana apabila sistem mitigasi tidak berjalan optimal. Memasuki Maret dan April, curah hujan diprediksi meningkat meskipun tidak dipengaruhi oleh siklon tropis. Sementara itu, bulan Mei hingga September diperkirakan didominasi cuaca panas, sebelum kembali memasuki fase musim hujan dengan intensitas cukup tinggi pada Oktober hingga Desember.
Muhidi menegaskan bahwa ketepatan dan keakuratan data kerusakan serta jumlah korban menjadi kunci utama keberhasilan program pemulihan. Pasalnya, pelaksanaan pekerjaan fisik seperti perbaikan infrastruktur umum, sekolah, dan fasilitas publik lainnya sangat bergantung pada perencanaan yang selaras dengan kondisi cuaca.

