Padang, Sindotime-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa pola cuaca Indonesia dalam sepekan mendatang akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor atmosfer skala global, regional, hingga lokal. Interaksi berbagai sistem tersebut diprakirakan memicu peningkatan intensitas dan sebaran hujan di banyak wilayah Tanah Air.
BMKG menjelaskan bahwa saat ini fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase negatif yang menunjukkan kondisi La Niña lemah. Situasi ini berdampak pada meningkatnya kandungan uap air di atmosfer, sehingga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan awan hujan. Kondisi tersebut diperkuat oleh suhu muka laut di perairan Indonesia yang relatif hangat, yang berperan sebagai sumber utama suplai uap air.
“Fase La Niña lemah berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di banyak wilayah Indonesia,” tulis Situs BMKG dibuka pada Rabu (7/1/).
Dalam pemantauan dinamika atmosfer intraseasonal, BMKG mencatat aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) yang diperkirakan melintas di sejumlah wilayah strategis, antara lain Aceh, Sumatera bagian selatan, Jawa, Kalimantan, Maluku, Maluku Utara, hingga sebagian besar wilayah Papua. Selain MJO, gelombang atmosfer lain seperti Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator juga terdeteksi aktif di Aceh, Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Kombinasi fenomena ini berkontribusi terhadap peningkatan proses konveksi yang berujung pada peluang hujan lebih tinggi.
“Aktivitas MJO serta gelombang ekuator meningkatkan proses konveksi dan peluang hujan di wilayah terdampak,” tulis Situs BMKG.
Dari sisi gangguan cuaca skala besar, BMKG melaporkan bahwa Bibit Siklon Tropis 91S telah berkembang menjadi Siklon Tropis Jenna dengan kekuatan kategori satu dan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot. Siklon ini berada di Samudra Hindia, tepatnya di barat daya Lampung, dan bergerak ke arah selatan. Dalam beberapa hari ke depan, siklon tersebut diprakirakan menguat hingga kategori dua. Meski tidak bergerak langsung ke daratan Indonesia, dampak tidak langsungnya berpotensi menimbulkan gelombang laut tinggi, angin kencang, serta hujan lebat, khususnya di wilayah Sumatera bagian selatan dan Jawa bagian barat.





