Bukittinggi

Tekan Potensi dan Dampak Longsor di Ngarai Sianok, Sistem Mitigasi Terintegrasi Penting

×

Tekan Potensi dan Dampak Longsor di Ngarai Sianok, Sistem Mitigasi Terintegrasi Penting

Sebarkan artikel ini
Praktisi GIS Sumatera Barat, Timtim D Purnasebta.(instagram)

Bukittinggi, Sindotime-Peristiwa longsor yang berulang di kawasan Ngarai Sianok menunjukkan bahwa wilayah tersebut berada dalam tingkat risiko bencana yang tinggi. Kondisi ini tidak semata disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga dipengaruhi oleh tingginya kerentanan wilayah yang belum diimbangi dengan upaya mitigasi yang memadai. Absennya infrastruktur pengurangan risiko, seperti pengelolaan vegetasi lereng dan sistem peringatan dini yang terpadu, membuat potensi kerugian akibat longsor semakin besar.

Praktisi Sistem Informasi Geografis (GIS) Sumatera Barat, Timtim DP, menjelaskan bahwa karakteristik fisik Ngarai Sianok sangat berkontribusi terhadap tingginya risiko longsor. Bentang alam berupa ngarai sempit dengan dinding tebing yang curam menciptakan kondisi geologi yang labil dan rentan mengalami pergerakan tanah, terutama saat curah hujan tinggi.

Menurutnya, tingkat kerentanan tersebut semakin meningkat karena hingga kini belum tersedia sistem peringatan dini yang berbasis GIS dan terintegrasi dengan data curah hujan serta kondisi lapangan secara real-time. Tanpa sistem tersebut, potensi longsor sulit diprediksi secara cepat dan akurat, sehingga masyarakat tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan evakuasi.

Baca Juga  Bermodalkan Sejarah, Bukittinggi Mengajukan Status jadi Daerah Istimewa

Timtim juga menekankan pentingnya pendekatan mitigasi melalui perencanaan tata ruang berbasis data. Pemetaan zona rawan longsor menggunakan teknologi GIS dinilai krusial karena mampu menggabungkan berbagai parameter, seperti kondisi geologi, kemiringan lereng, jenis batuan, pola aliran air, serta intensitas hujan. Data ini menjadi dasar penting dalam menentukan kebijakan pemanfaatan ruang yang aman.

Lebih lanjut, ia menegaskan perlunya pembatasan aktivitas di kawasan berisiko tinggi. Pemukiman, fasilitas umum, dan kawasan wisata seharusnya tidak berada terlalu dekat dengan bibir ngarai. Sementara itu, aktivitas pertanian di lereng curam harus menerapkan teknik konservasi tanah guna mengurangi potensi erosi dan longsor.

Baca Juga  Dari Rp 500 Juta, Kini PT BPRS Jam Gadang Punya Aset Mencapai Rp 135 Miliar

Selain penataan ruang, pengembangan sistem peringatan dini berbasis GIS dan hidrometeorologi juga perlu segera diwujudkan. Sistem ini dapat memanfaatkan sensor curah hujan, pemantauan deformasi tanah, serta pengukuran debit sungai yang terhubung dalam satu jaringan pemantauan terpadu, sehingga peringatan dapat disampaikan secara cepat dan tepat kepada masyarakat.