Seputar Kampus

Kontroversi Grok AI Menjadi Bukti Nyata Ancaman Deepfake yang Mengkhawatirkan

×

Kontroversi Grok AI Menjadi Bukti Nyata Ancaman Deepfake yang Mengkhawatirkan

Sebarkan artikel ini
Oleh : Muhammad Alfaridzi Nisfer (Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unand)

TEKNOLOGI kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kembali menjadi sorotan publik setelah mencuatnya isu kontroversi Grok AI di platform X. Kecerdasan buatan besutan Elon Musk ini baru saja mengembangkan fitur Grok Imagine yang memungkinkan pengguna dapat merekayasa foto yang diambil dari postingan pengguna lain tanpa memerlukan izin pemiliknya. Masalah timbul ketika kemudahan yang ditawarkan disalahgunakan untuk membuat dan menyebarluaskan konten asusila, yang menuai kecaman dari publik.

Persoalan mengenai Grok AI ini merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam menyikapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi AI tidak hanya terbatas pada kemampuan mengolah data dan teks, tetapi telah mampu menghasilkan gambar dan video yang semakin terlihat realistis. Perkembangan ini secara perlahan mengaburkan batas antara kenyataan dan rekayasa digital menjadi tantangan yang kompleks bagi lembaga regulator dan publik.

Dibalik tantangan yang muncul, kita perlu menyadari bahwa masalah utamanya bukan lagi sekadar keberadaan individu yang tidak bertanggung jawab, melainkan terletak pada kebebasan berlebihan bagi penggunanya. Kemudahan ini mendorong para pengguna AI secara leluasa menciptakan konten-konten hasil rekayasa kecerdasan buatan. Kondisi tersebut memicu maraknya konten deepfake yang tersebar luas di berbagai platform media sosial.

Baca Juga  Pengabdian Masyarakat Darurat Bencana FTI Unand, Tunjukan Kepedulian di Palembayan

Deepfake merupakan teknologi berbasis AI yang mampu menghasilkan konten rekayasa yang dimanipulasi secara digital, bentukya bisa berupa video, gambar, dan klip suara. Konten tersebut membuat individu yang menjadi subjek seolah olah melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Terdapat beberapa jenis jenis deepfake diantaranya deepfake gambar, video, audio, dan deepfake live. Meski mulanya dtujukan sebagai konten kreatif dan hiburan, namun kemudahan akses pada teknologi ini justru sering disalahgunakann untuk menghasilkan konten palsu yang menjadi ancaman bagi pengguna media sosial.

Baca Juga  Gandeng Unand, Dorong Inovasi Pertanian dan Pariwisata Berkelanjutan

Sebelum kontroversi Grok AI ini mencuat, fenomena penyalahgunaan konten deepfake sudah menjadi masalah serius yang mengincar tokoh publik sebagai subjek utamanya. Terdapat beberapa kasus yang menyeret nama nama terkenal, di tahun 2023 sempat beredar potongan video mantan Presiden RI ke-7 Joko Widodo yang memperlihatkan dirinya berpidato menggunakan bahasa mandarin. Video tersebut sempat membuat geger jagad maya dan menimbulkan disinformasi di tengah tengah publik.