Limapuluh Kota, Sindotime-Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) akirnya buka suara terkait sinkhole di Jorong Tepi, Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota yang baru-baru ini menjadi perbincangan banyak khalayak di Sumbar.
Tim dari Badan Geologi, Taufik Wirabuana menyebut, berdasarkan hasil kajian tim pada Rabu dan Kamis (9/1), mekanisme terbentuknya sinkhole di lokasi kejadian. Di mana Fenomena sinkhole yang terjadi dapat diklasifikasikan sebagai sinkhole tipe cover-collapse, yaitu jenis runtuhan yang berkembang pada daerah karst di mana batuan karbonat (batugamping) tertutup oleh lapisan tanah lepas berupa endapan aluvial atau material hasil aktivitas vulkanik.
Karakter utama tipe ini adalah keruntuhan yang berlangsung secara tiba-tiba, tanpa didahului oleh gejala amblesan bertahap di permukaan. Hal ini sejalan dengan kondisi sinkhole yang teramati di lapangan, yang berbentuk sumuran vertikal dengan dinding relatif tegak, menunjukkan kegagalan struktur penutup yang mendadak.
Secara mekanistik, pembentukan sinkhole ini dikontrol oleh kombinasi pelepasan butiran tanah (ravelling) dan erosi internal melalui saluran mikro (piping) pada lapisan penutup. Proses tersebut semakin intensif saat terjadi curah hujan ekstrem, yang meningkatkan aliran air ke bawah permukaan. Air hujan dan air tanah meresap melalui pori-pori serta rekahan pada batuan karbonat, memicu pelarutan kimia batugamping yang secara progresif memperbesar rongga bawah tanah. Dalam jangka waktu panjang, rongga-rongga ini berkembang tanpa indikasi visual di permukaan karena tertutup oleh lapisan tanah dan endapan vulkanik yang masih tampak stabil.
Ketika dimensi rongga bawah tanah telah melampaui batas kestabilan geomekanik, lapisan atap rongga kehilangan kemampuan menahan beban di atasnya dan mengalami keruntuhan mendadak. Peristiwa ini menyebabkan hilangnya dukungan bawah permukaan dan memicu amblasnya tanah penutup secara vertikal. Keberadaan genangan air di dasar sinkhole mengindikasikan keterhubungan langsung dengan sistem aliran air bawah tanah. Fluktuasi muka air tanah serta perubahan tekanan hidrostatis berperan penting dalam mempercepat proses ketidakstabilan dan keruntuhan struktur bawah tanah.
Berdasarkan Peta Geologi Teknik Kabupaten Lima Puluh Kota, material penyusun lapisan tanah penutup di lokasi kejadian didominasi oleh lanau pasiran hingga pasir lanauan. Lanau pasiran berwarna kuning kecokelatan, bersifat teguh hingga kaku, dengan plastisitas tinggi, sedangkan pasir lanauan berwarna coklat, berkepadatan agak padat, mengandung fragmen kerikil bersudut berukuran sekitar 0,3–2,0 cm, serta didominasi oleh butiran pasir halus hingga sedang. Di bawah lapisan tanah tersebut diperkirakan terdapat batugamping anggota Formasi Kuantan (PCkl) yang telah mengalami proses karstifikasi intensif, sehingga berkembang rongga-rongga bawah tanah dan sistem sungai bawah tanah.





