Selain aspek kesehatan, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada keselamatan fisik warga. Untuk sementara waktu, area di sekitar sinkhole ditetapkan sebagai zona terbatas dengan radius aman minimal 50 meter dari bibir lubang. Kebijakan ini diterapkan karena struktur tanah di sekitar lokasi masih labil dan berpotensi mengalami amblasan lanjutan.
Dari hasil analisis kimia awal, kandungan total zat terlarut (TDS) dan unsur besi (Fe) dalam air masih berada pada batas yang relatif aman. Namun demikian, keberadaan bakteri e-Coli dalam jumlah tinggi menjadi alasan utama air tersebut tidak boleh digunakan sebagai air minum tanpa melalui proses perebusan atau pengolahan terlebih dahulu.
Kajian lanjutan saat ini masih terus dilakukan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumatera Barat bekerja sama dengan Badan Geologi. Hasil penelitian yang lebih komprehensif nantinya akan menjadi dasar rekomendasi teknis bagi Bupati Limapuluh Kota dalam menetapkan kebijakan pengamanan dan pemanfaatan kawasan terdampak.
Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi, menjelaskan bahwa tim Badan Geologi telah melakukan observasi lapangan selama beberapa hari terakhir. Namun, untuk mengungkap penyebab amblasan secara menyeluruh, masih diperlukan peralatan khusus serta dukungan logistik tambahan agar kajian dapat dilakukan secara lebih mendalam dan akurat.
Sebagaimana diketahui, sinkhole tersebut pertama kali muncul pada Minggu (4/1) siang di lahan sawah milik seorang warga bernama Adrolmios (61). Peristiwa itu diawali dengan suara gemuruh keras yang menyerupai ledakan, sebelum tanah yang sebelumnya mengalami retakan akibat musim kemarau tiba-tiba amblas dan membentuk lubang besar berisi air dengan kedalaman diperkirakan mencapai 20 meter.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, aparat kepolisian bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota segera memasang garis pembatas di sekitar lokasi. Meski antusiasme dan rasa ingin tahu warga cukup tinggi, akses tetap dibatasi karena hingga kini masih terdengar suara dentuman dari dalam lubang, yang mengindikasikan bahwa proses pergerakan tanah belum sepenuhnya berhenti dan berpotensi memicu longsor susulan.(*/zoe)





