MENYOAL revitalisasi peran lembaga adat dalam komunikasi politik menghadapi berbagai tantangan kompleks di era modern ini. Perubahan sosial yang begitu cepat dan masifnya arus globalisasi telah menggerus eksistensi dan pengaruh lembaga adat dalam masyarakat. Hal ini menyebabkan semakin berkurangnya peran lembaga adat sebagai medium komunikasi politik antara masyarakat dengan pemangku kepentingan.
Tantangan utama dalam upaya revitalisasi adalah kesenjangan generasi yang semakin melebar. Generasi muda cenderung memandang lembaga adat sebagai institusi kuno yang tidak relevan dengan kehidupan modern. Mereka lebih memilih platform digital dan media sosial sebagai sarana komunikasi politik, sementara lembaga adat masih mengandalkan pendekatan konvensional yang dianggap kurang efektif dalam menjangkau aspirasi generasi milenial dan Gen-Z.
Minimnya dukungan pemerintah juga menjadi kendala serius dalam upaya menghidupkan kembali peran lembaga adat. Meskipun secara formal keberadaan lembaga adat diakui, namun dalam praktiknya mereka sering kali tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan politik yang menyangkut kepentingan masyarakat. Kondisi ini membuat lembaga adat kehilangan legitimasi dan kepercayaan dari masyarakat yang mereka wakili.
Tantangan berikutnya adalah modernisasi sistem pemerintahan yang cenderung mengabaikan kearifan lokal. Sistem birokrasi modern seringkali bertentangan dengan nilai-nilai tradisional yang dijunjung tinggi oleh lembaga adat. Akibatnya, terjadi benturan kepentingan dan kesulitan dalam mengintegrasikan peran lembaga adat ke dalam struktur pemerintahan formal.
Masalah pendanaan dan infrastruktur juga menjadi hambatan yang tidak kalah penting. Banyak lembaga adat yang mengalami kesulitan finansial dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai fasilitator komunikasi politik. Keterbatasan sarana dan prasarana membuat mereka kesulitan dalam menjangkau masyarakat luas dan mengikuti perkembangan teknologi komunikasi modern.
Kompleksitas permasalahan sosial politik kontemporer juga menjadi tantangan tersendiri. Isu-isu modern seperti demokrasi digital, politik identitas, dan populisme membutuhkan pendekatan baru yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh kearifan tradisional. Lembaga adat dituntut untuk mampu beradaptasi dan memberikan solusi yang relevan terhadap permasalahan politik kontemporer tanpa kehilangan esensi nilai-nilai adatnya.





