Mahyeldi menyampaikan apresiasi atas kehadiran Mendagri beserta jajaran, yang dinilainya sebagai bentuk nyata perhatian dan komitmen pemerintah pusat terhadap pemulihan daerah terdampak bencana. Ia menegaskan bahwa dukungan tersebut menjadi penguat semangat bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi masa pemulihan yang tidak ringan.
Menurut Mahyeldi, bencana hidrometeorologi yang terjadi dipicu oleh musim hujan aktif sejak akhir November hingga awal Desember 2025, yang semakin diperparah oleh pengaruh Siklon Senyar. Fenomena tersebut menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi, durasi panjang, serta disertai angin kencang. Sebelumnya, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026, termasuk di wilayah Sumatera Barat.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut memicu banjir dan tanah longsor secara masif di berbagai kabupaten dan kota, sehingga dampak bencana bersifat luas dan regional. Berdasarkan data dashboard kebencanaan daerah, tercatat sebanyak 307.936 jiwa terdampak di Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, 264 orang meninggal dunia, 72 orang dinyatakan hilang, dan 401 orang mengalami luka-luka. Selain itu, 10.854 jiwa terpaksa mengungsi, sementara ratusan ribu lainnya terdampak pada aspek sosial dan ekonomi.
Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan korban jiwa tertinggi, yakni 194 orang meninggal dunia dan 38 orang hilang. Kabupaten Padang Pariaman mencatat 35 korban meninggal, disusul Kota Padang Panjang dengan 17 korban meninggal dan 29 orang hilang. Dampak bencana juga dirasakan di Kota Padang, Pasaman Barat, Tanah Datar, Kepulauan Mentawai, Pesisir Selatan, hingga Kabupaten Solok dengan jumlah warga terdampak mencapai puluhan ribu orang di masing-masing daerah.
Selain korban jiwa, bencana juga menyebabkan kerusakan signifikan pada permukiman warga. Tercatat sebanyak 6.895 unit rumah mengalami rusak ringan, 2.981 unit rusak sedang, dan 5.077 unit rusak berat. Bahkan, 775 unit rumah dilaporkan hanyut dan tidak lagi dapat dihuni.
Dari sisi ekonomi, total nilai kerusakan di Sumatera Barat mencapai Rp15,63 triliun, sementara total kerugian tercatat sebesar Rp17,91 triliun. Dengan demikian, akumulasi kerusakan dan kerugian akibat bencana mencapai Rp33,55 triliun. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terdampak, disusul sektor permukiman, ekonomi, sosial, dan lintas sektor lainnya.





