Di sisi sosial, tekanan untuk menikah memang telah lama menjadi fenomena di Tiongkok, terutama bagi mereka yang berusia di atas 25 tahun. Perempuan yang belum menikah kerap diberi label negatif seperti sheng nu. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa tekanan tersebut kini tidak hanya datang dari keluarga dan lingkungan sosial, tetapi juga merambah ke ranah profesional.
Alih-alih menciptakan stabilitas, kebijakan ini justru menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan bagi karyawan. Mereka dipaksa mengambil keputusan hidup besar dalam waktu singkat demi mempertahankan mata pencaharian. Padahal, membangun hubungan dan pernikahan membutuhkan kesiapan emosional, ekonomi, dan sosial yang tidak bisa dipaksakan.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai pelaksanaan pemecatan terhadap karyawan yang tidak mematuhi aturan tersebut. Publik dan media masih menunggu sikap tegas dari otoritas tenaga kerja setempat. Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana persoalan demografi dapat mendorong institusi mengambil kebijakan ekstrem, yang pada akhirnya justru berpotensi melanggar hak individu dan etika profesional.(*/zoe)





