Padang, Sindotime—Sebagai upaya strategis meningkatkan keselamatan dan kelancaran lalu lintas di kawasan rawan Padang–Solok, Sumatera Barat, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat realisasi pembangunan Flyover Sitinjaulauik.
Infrastruktur ini dirancang untuk menjawab persoalan klasik di jalur ekstrem Sitinjaulauik yang selama bertahun-tahun dikenal rawan kecelakaan dan kemacetan, terutama pada jam padat.
Flyover tersebut dibangun dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), yang memungkinkan percepatan pembangunan sekaligus menjamin keberlanjutan pembiayaan dan pengelolaan. Hingga saat ini, progres fisik proyek telah mencapai sekitar 10 persen.
Capaian tersebut disampaikan Direktur Pembangunan Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga, Rakhman Taufik, saat melakukan peninjauan lapangan bersama Direktur Preservasi Jalan dan Jembatan Wilayah I, Hendro Satrio Muhammad Kamaludin.
Rakhman menjelaskan bahwa aktivitas konstruksi saat ini telah memasuki tahap pembangunan di segmen jembatan kedua. Secara keseluruhan, proyek Flyover Sitinjaulauik mencakup pekerjaan sepanjang 2,8 kilometer, yang terdiri atas pembangunan jalan baru sepanjang 1,8 kilometer serta konstruksi jembatan sepanjang 1 kilometer. Infrastruktur ini dirancang untuk memotong jalur berkelok dan curam yang selama ini menjadi titik rawan kecelakaan.
Untuk mengejar target penyelesaian, Kementerian PU menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Dukungan masyarakat setempat serta percepatan proses pengadaan lahan oleh Kementerian ATR/BPN menjadi faktor kunci agar pelaksanaan proyek tidak mengalami hambatan. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat terwujudnya sistem konektivitas yang lebih aman dan efisien bagi masyarakat Sumatera Barat.
Di tengah proses pembangunan, pemerintah juga memberi perhatian serius terhadap kelancaran operasional jalan nasional eksisting. Hendro Satrio Muhammad Kamaludin menegaskan bahwa jalur Padang–Solok tetap harus berfungsi optimal selama masa konstruksi berlangsung. Mengingat ruas jalan sepanjang 2,2 kilometer di kawasan proyek merupakan akses vital yang kerap mengalami kepadatan lalu lintas, kondisi jalan lama wajib dijaga agar tetap aman dilalui.





