Padang, Sindotime—Gerakan Sejuta Pohon digagas Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Ini sebagai langkah strategis pemulihan lingkungan pascabencana sekaligus upaya mitigasi jangka panjang terhadap ancaman banjir dan longsor. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, komunitas lingkungan, akademisi, serta berbagai elemen masyarakat.
Peluncuran awal gerakan tersebut dilaksanakan pada Kamis (22/1) di kawasan daerah aliran sungai (DAS) Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Kegiatan ini menjadi titik awal pelaksanaan program berkelanjutan yang akan menyasar sejumlah DAS rawan bencana di berbagai wilayah Sumatera Barat.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa Gerakan Sejuta Pohon merupakan bentuk nyata sinergi berbagai pihak dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Menurutnya, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kerja sama berkelanjutan, tidak hanya pada saat penanaman, tetapi juga dalam tahap perawatan.
“Gerakan ini lahir dari kolaborasi banyak pihak. Hari ini kita mulai, dan ke depan harus dijaga kesinambungannya,” ujar Mahyeldi.
Ia menyampaikan bahwa program tersebut akan dijalankan bersama Dinas Lingkungan Hidup serta pemangku kepentingan lainnya. Dukungan bibit tanaman berasal dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup di wilayah Sumatera Barat.
Jenis tanaman yang ditanam tidak hanya berfungsi sebagai tanaman pelindung, tetapi juga memiliki nilai produktif, seperti jengkol, durian, kaliandra, dan bambu. Mahyeldi menekankan bahwa indikator keberhasilan gerakan ini bukan semata jumlah pohon yang ditanam, melainkan tingkat keberlangsungan hidup tanaman tersebut.
“Perawatan setelah penanaman menjadi kunci. Tanaman yang mati harus segera diganti agar fungsi ekologis kawasan tetap terjaga,” katanya.






