Opini

Pesan Komunikasi Politik Lewat Pantun di Minangkabau

×

Pesan Komunikasi Politik Lewat Pantun di Minangkabau

Sebarkan artikel ini
Oleh: Dr. M. A. Dalmenda. M.Si (Dosen Komunikasi Politik, Departemen Ilmu Komunikasi, Fisip Unand)

MENYOAL penggunaan pantun sebagai media komunikasi politik di Minangkabau. Pantun, sebagai bagian integral dari budaya Minangkabau, memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan politik secara halus, cerdas, dan menghibur. Pantun digunakan dalam berbagai konteks politik, mulai dari kampanye hingga kritik sosial, serta bagaimana efektivitasnya dalam mempengaruhi opini publik dan membangun hubungan antara politisi dan masyarakat.

Pantun adalah bentuk puisi tradisional Melayu yang terdiri dari empat baris dengan rima a-b-a-b. Di Minangkabau, pantun bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana komunikasi yang efektif dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik. Penggunaan pantun dalam komunikasi politik memungkinkan pesan-pesan yang kompleks dan sensitif disampaikan dengan cara yang lebih diterima oleh masyarakat.

Fungsi pantun dalam ranah omunikasi politik.Salah satu keunggulan pantun adalah kemampuannya untuk menyampaikan pesan secara halus dan tidak langsung. Dalam konteks politik, ini sangat berguna untuk menghindari konflik terbuka atau menyinggung pihak-pihak tertentu. Politisi dapat menggunakan pantun untuk menyampaikan kritik atau saran tanpa harus menggunakan bahasa yang kasar atau konfrontatif.

Contoh:

Naik bendi ka Bukik Kili

 Angku Damang  mamakai  saluak

Kalau pemimpin tak punyo raso peduli

Rakyat badarai hiduiknyo makin tapuruak.

Pantun di atas secara halus mengkritik pemimpin yang tidak peduli terhadap rakyat kecil.

Pantun juga dapat digunakan untuk membangun citra positif seorang politisi. Dengan menggunakan pantun yang cerdas dan relevan, seorang politisi dapat menunjukkan bahwa ia memahami budaya dan nilai-nilai masyarakat Minangkabau. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan dan dukungan dari masyarakat.

Contoh:

Anak janang manatiang piriang

Kumayan lapeh dalam parapian

Pemimpin mamimpin jo hati nan riang

Disinan kandak rakyat kasampaian

Pantun ini menggambarkan seorang pemimpin yang bijak dan peduli terhadap pembangunan daerah.