Pantun memiliki unsur hiburan yang kuat. Penggunaan rima dan irama yang menarik membuat pantun mudah diingat dan disukai oleh masyarakat. Dalam kampanye politik, pantun dapat digunakan untuk menarik perhatian pemilih dan membuat pesan-pesan kampanye lebih mudah diingat. Contoh :
Pai baladang ka Sibarambang
Singgah sabanta diparantian bendi
Kalau mamiliah janganlah bimbang
Pilihlah denai nan tulus untuak mengabdi
Pantun ini menggunakan unsur hiburan untuk mengajak masyarakat memilih kandidat tertentu.
Pantun juga sering digunakan untuk menyampaikan kritik sosial terhadap berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Dalam konteks politik, pantun dapat digunakan untuk mengkritik kebijakan pemerintah, praktik korupsi, atau ketidakadilan sosial.
Contoh:
Batang beringin daunnyo rimbun
Tampek bataduah di kalo siang
Korupsi merajalela samakin bajibun
Nagari hancur rakyat pun harapannyo hilang
Pantun ini secara tegas mengkritik praktik korupsi yang merugikan negara dan rakyat.
Penggunaan pantun dalam komunikasi politik dapat membantu mempererat hubungan antara politisi dan masyarakat. Dengan menggunakan bahasa dan gaya yang akrab bagi masyarakat Minangkabau, seorang politisi dapat menunjukkan bahwa ia adalah bagian dari mereka dan memahami kebutuhan serta aspirasi mereka.
Contoh:
Banda Salayo aienyo janiah,
Tampek mandi anak nagari
Kami datang membao kasiah
Mari basamo mambangun nagari
Pantun ini menunjukkan kedekatan politisi dengan masyarakat dan komitmennya untuk membangun daerah.
Efektivitas Pantun dalam Mempengaruhi Opini Publik






