Efektivitas pantun dalam mempengaruhi opini publik di Minangkabau tidak dapat diragukan. Beberapa faktor yang mendukung efektivitas ini antara lain:Pertama, Kedekatan Budaya: Pantun adalah bagian dari identitas budaya Minangkabau.
Penggunaan pantun dalam komunikasi politik menunjukkan bahwa politisi menghargai dan memahami budaya masyarakat. Kedua,Kemudahan Dipahami: Pantun menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat luas. Pesan-pesan politik yang disampaikan melalui pantun lebih mudah diterima dan diingat.
Ketiga, Unsur Hiburan: Unsur hiburan dalam pantun membuat pesan-pesan politik lebih menarik dan tidak membosankan. Hal ini dapat meningkatkan perhatian dan minat masyarakat terhadap isu-isu politik. Keempat, Kekuatan Tradisi Lisan: Minangkabau memiliki tradisi lisan yang kuat. Pantun, sebagai bagian dari tradisi lisan, memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Meskipun memiliki banyak keunggulan, penggunaan pantun dalam komunikasi politik juga menghadapi beberapa tantangan diantaranya, Keterbatasan Pemahaman: Tidak semua orang memahami makna dan konteks pantun dengan baik. Hal ini dapat menyebabkan pesan-pesan politik yang disampaikan melalui pantun tidak efektif.
Perubahan Zaman: Generasi muda mungkin kurang tertarik dengan pantun dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Politisi perlu beradaptasi dengan perubahan zaman dan mencari cara untuk membuat pantun tetap relevan bagi generasi muda. Penyalahgunaan: Pantun dapat disalahgunakan untuk menyebarkan informasi yang salah atau menyesatkan. Politisi harus berhati-hati dalam menggunakan pantun dan memastikan bahwa pesan-pesan yang disampaikan akurat dan bertanggung jawab.






