Jakarta, Sindotime—Jika tidak ada aral melintang, Kementerian Agama Republik Indonesia bakal menggelar Sidang Isbat penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa, (17/2). Sidang ini merupakan forum resmi negara yang menjadi acuan nasional dalam menetapkan dimulainya ibadah puasa bagi umat Islam di Indonesia.
Pelaksanaan sidang akan dipusatkan di Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta, dan dipimpin langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar. Kegiatan tahunan ini dirancang sebagai ruang integrasi antara pendekatan keilmuan astronomi dan ketentuan syariat Islam, guna memastikan keputusan yang akurat sekaligus dapat diterima oleh seluruh elemen masyarakat.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa Sidang Isbat melibatkan berbagai pemangku kepentingan strategis. Peserta sidang terdiri atas perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), duta besar negara sahabat, pakar astronomi dan falak, serta tim ahli dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Selain itu, lembaga negara seperti DPR RI dan Mahkamah Agung turut diundang sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas publik.
Menurut Abu Rokhmad, proses penetapan awal Ramadan dilakukan melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah pemaparan data astronomis terkait posisi hilal yang dihitung secara ilmiah melalui metode hisab. Tahap kedua berupa verifikasi lapangan melalui kegiatan rukyatul hilal yang akan dilaksanakan di 37 titik pengamatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Hasil pengamatan tersebut kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam tahap ketiga, yaitu musyawarah penentuan keputusan akhir yang akan diumumkan secara resmi kepada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa Kemenag secara konsisten menggunakan metode gabungan antara hisab dan rukyah dalam penetapan awal bulan-bulan penting dalam kalender Hijriah, termasuk Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah. Kebijakan ini juga memiliki dasar hukum keagamaan yang kuat, merujuk pada Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004.
Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam Kemenag, Arsad Hidayat, menyampaikan bahwa pihaknya terus mengembangkan kualitas observasi hilal dengan memperluas dan memaksimalkan titik-titik pemantauan. Tim ahli akan ditempatkan di lokasi-lokasi strategis yang memiliki potensi visibilitas hilal optimal.






