SINDOTIME.COM-Hujan deras kembali mengguyur wilayah Palembayan, Kabupaten Agam, pada Sabtu (31/1) siang, membawa dampak serius bagi para penyintas bencana Galodo. Ini setelah hunian sementara (Huntara) Kayu Pasak yang berlokasi di Jorong Salareh Aia dilaporkan terendam banjir. Air masuk ke sejumlah unit hunian, memaksa warga meningkatkan kewaspadaan dan menyelamatkan barang-barang penting seadanya.
Kejadian ini langsung viral di media sosial seperti yang ditayangkan di instagram haisumbar. Di mana dalam video tersebut, terlihat warga yang tinggal di huntara tersebut terlihat sedang berjibaku menimba air yang masuk ke ke rumah mereka. Bahkan ada juga diantara warga terlihat memangkul tanah untuk mengaliri air.
Ini tentunya seolah membuka kembali trauma lama para korban bencana. Alih-alih menjadi tempat berlindung yang aman, Huntara Kayu Pasak justru kembali berada dalam ancaman ketika hujan berintensitas tinggi turun. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar terkait proses kajian kerawanan bencana sebelum lokasi tersebut ditetapkan sebagai kawasan hunian sementara.
Sejumlah warga mengungkapkan bahwa genangan air datang dengan cepat, terutama di area hunian yang berada pada kontur lebih rendah. Sistem drainase dinilai tidak mampu menampung debit air hujan, sementara posisi lokasi yang rawan limpasan memperburuk situasi.
“Baru hujan sebentar, air sudah naik. Kami trauma dan takut kejadian yang lebih besar terulang,” ungkap seorang warga yang memilih tidak disebutkan namanya.
Sorotan pun mengarah pada proses penentuan lokasi Huntara. Dalam prinsip penanggulangan bencana, pembangunan hunian sementara semestinya dilakukan di kawasan yang aman dari banjir, jauh dari alur aliran air, memiliki sistem drainase memadai, serta memperhitungkan daya dukung lingkungan sekitar.






