SINDOTIME.COM-Di tengah riuhnya dunia modern yang serba cepat, manusia semakin mudah terpancing emosi, namun semakin sulit mengelolanya. Informasi bergerak dalam hitungan detik, opini bertebaran tanpa saringan, dan percakapan—baik luring maupun daring—kerap berubah menjadi arena pelampiasan amarah. Dalam situasi demikian, kemampuan merawat emosi bukan lagi sekadar kecakapan pribadi, melainkan kebutuhan sosial yang mendesak. Menjaga hati dan lidah menjadi fondasi etika peradaban.
Emosi: Anugerah Sekaligus Amanah
Dalam kajian psikologi modern, terutama melalui konsep Emotional Intelligence yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman, emosi dipahami sebagai energi batin yang dapat menggerakkan manusia menuju keberhasilan atau sebaliknya menjerumuskannya pada kehancuran relasi. Kecerdasan emosional meliputi kemampuan mengenali perasaan diri, mengelola emosi, memotivasi diri, berempati, dan membangun hubungan sosial yang sehat.
Dalam khazanah etika klasik, Aristotles menegaskan bahwa kebajikan berada pada jalan tengah tidak berlebihan dalam marah, namun juga tidak kehilangan keberanian dalam membela kebenaran.
Dalam perspektif spiritual Islam, pengendalian amarah merupakan ciri orang bertakwa. Allah Swt. berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. Ali ‘Imran: 134)
Rasulullah saw. juga menegaskan:
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”





