Hadis lain yang sangat singkat namun mendalam maknanya adalah sabda beliau:
“Jangan marah.” (Beliau mengulanginya beberapa kali ketika seorang sahabat meminta nasihat.)
Dengan demikian, merawat emosi bukanlah menekan perasaan, melainkan mengelolanya secara sadar, proporsional, dan bernilai ibadah.
Hati sebagai Sumber Perilaku
Segala perilaku bermula dari hati. Hati adalah pusat kesadaran moral, tempat niat dilahirkan, dan sumber keikhlasan ditumbuhkan. Rasulullah saw. bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”
Al-Qur’an pun mengingatkan pentingnya kebersihan batin:
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
Ketika hati dipenuhi prasangka, iri, dan dendam, lidah akan mudah mengucap kata-kata yang melukai. Sebaliknya, hati yang jernih melahirkan tutur kata yang menenangkan.
Ilmu neurosains menjelaskan bahwa reaksi emosional spontan sering dipicu oleh kerja amygdala, yang dapat mendahului pertimbangan rasional dari korteks prefrontal. Karena itu, jeda sebelum berbicara bukan hanya ajaran moral, tetapi juga kebutuhan biologis agar akal dapat mengendalikan dorongan sesaat.





