Merawat hati dapat dilakukan melalui muhasabah, refleksi diri, dzikir, dan kesadaran penuh (mindfulness). Dalam Al-Qur’an ditegaskan:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)
Lidah: Cermin Kedewasaan Jiwa
Lidah adalah penerjemah isi hati. Kata-kata dapat menjadi penyejuk, namun juga bisa menjadi senjata yang melukai tanpa terlihat. Karena itu, Islam sangat menekankan etika berbicara.
Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”(QS. Al-Ahzab: 70)
Dalam ayat lain ditegaskan:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS. Al-Isra’: 53)
Rasulullah saw. juga bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Di era media sosial, menjaga lidah berarti juga menjaga jari yang mengetik. Setiap kata tercatat, bukan hanya dalam jejak digital, tetapi juga dalam catatan amal. Allah mengingatkan:
“Tiada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18) Karena itu, tiga pertanyaan sederhana sebelum berbicara patut menjadi kompas etis, Apakah yang saya katakan benar?, Apakah ia perlu disampaikan?, Apakah ia disampaikan dengan cara yang baik?
Jika salah satu jawabannya negatif, diam sering kali lebih bijak.





