Budaya literasi digital perlu dibarengi literasi emosional. Tanpa kedewasaan batin, teknologi hanya mempercepat penyebaran konflik. Sebaliknya, hati yang terjaga dan lidah yang terkendali menjadikan teknologi sebagai sarana dakwah dan penyebar kebaikan.
Merawat Emosi sebagai Investasi Peradaban
Sejarah mencatat bahwa banyak konflik besar bermula dari kata-kata yang tak terjaga. Sebaliknya, peradaban yang maju dibangun oleh dialog yang santun dan saling menghormati. Dalam keluarga, pengendalian diri orang tua membentuk karakter anak. Di sekolah, guru yang bijak dalam bertutur melahirkan generasi santun. Di ruang publik, pemimpin yang menjaga ucapannya membangun kepercayaan masyarakat.
Merawat emosi adalah seni menyeimbangkan rasa dan rasio, dunia dan akhirat. Hati yang bersih melahirkan lidah yang santun; lidah yang santun menjaga persaudaraan; persaudaraan yang terjaga menumbuhkan peradaban yang bermartabat. Pada akhirnya, kekuatan sejati manusia tidak terletak pada kerasnya suara, melainkan pada kemampuannya menahan diri.
Dalam dunia yang gaduh, mereka yang mampu menjaga hati dan lidah adalah para penjaga kedamaian—diam-diam, tetapi menentukan arah sejarah.(***)





