Melansir data Refinitiv, pada Senin (2/3) per pukul 10.00 WIB harga minyak global mengalami kenaikan tajam sebagai respon tersebut.
Harga minyak Brent tercatat US$76,43 per barel, sedangkan WTI berada di level US$70,05 per barel. Posisi ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan penutupan Jumat (27/2) ketika Brent masih berada di US$72,48 per barel dan WTI di US$67,02 per barel.
Lonjakan harga ini juga dipicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan penghubung vital antara negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk Persia dengan pasar internasional, sehingga menjadi salah satu rute perdagangan energi paling strategis di dunia.
Selat Hormuz memiliki peran yang sangat besar dalam perdagangan energi global. Sekitar 22% pasokan minyak dunia, atau hampir seperempat total pasokan global, melintasi jalur ini. Bukan hanya minyak, sekitar 20% perdagangan gas alam cair LNG dunia juga melewati Selat Hormuz pada 2022.
Artinya, ketika muncul kekhawatiran bahwa selat ini berpotensi ditutup atau terjadi ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas, pasar langsung merespons dengan kenaikan harga minyak. Risiko gangguan pasokan menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga komoditas energi tersebut.
Meski demikian, arah pergerakan harga minyak ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan konflik.
Semakin lama ketegangan berlangsung dan semakin besar risiko gangguan distribusi energi, maka semakin besar pula peluang harga minyak bertahan tinggi atau bahkan kembali melanjutkan kenaikan.
- Ledakan Inflasi Jadi Ancaman





