Kenaikan harga minyak berpotensi langsung dalam mendorong terjadinya inflasi yang makin tinggi.
Lonjakan harga minyak menjadi ancaman serius bagi inflasi karena energi adalah komponen dasar bagi hampir seluruh kegiatan ekonomi.
Saat harga minyak naik, ongkos angkut dan biaya produksi ikut meningkat. Pada akhirnya, kenaikan biaya ini biasanya diteruskan ke harga jual barang dan jasa, sehingga harga harga di masyarakat ikut naik.
IMF pernah mencatat bahwa kenaikan 10% harga minyak global rata rata dapat mendorong inflasi domestik sekitar 0,4 poin persentase pada awal dampaknya.
Contoh nyatanya terlihat saat perang Rusia dan Ukraina pecah pada 2022. Perang tersebut memicu guncangan besar di pasar komoditas global dan mendorong kenaikan harga energi paling tajam sejak krisis minyak 1973. Kenaikan harga komoditas itu kemudian ikut memperparah tekanan inflasi global.
Artinya, jika konflik geopolitik kembali memicu lonjakan harga minyak, ancamannya bukan hanya pada pasar energi, tetapi juga pada harga barang secara umum. Jika kondisi ini berlangsung lama, daya beli masyarakat bisa tergerus dan tekanan inflasi akan semakin sulit dikendalikan.





