Headline

Ngeri, Inilah Dampak Perang Iran ke Perekonomian Indonesia

×

Ngeri, Inilah Dampak Perang Iran ke Perekonomian Indonesia

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI : Perekonomian anjlok akibat perang.(gemini ai)

Dampaknya juga akan terlihat pada suku bunga global. Ketika inflasi tinggi, bank sentral cenderung menahan suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali menaikkannya. Pada akhirnya, kondisi ini dapat menekan aktivitas ekonomi dan memperlambat pertumbuhan ekonomo global.

  1. Dolar AS Menguat, Mata Uang Emerging Markets Melemah

Dampak lain yang juga terasa adalah penguatan dolar AS di pasar global.

Hal ini tercermin dari pergerakan indeks dolar AS atau DXY, yakni indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia. Pada perdagangan pagi ini, DXY terpantau menguat 0,20% ke level 97,800. Dolar juga diuntungkan oleh statusnya sebagai aset aman ketika sentimen risiko pasar memburuk.

Baca Juga  Krisis Air Pasca Banjir Bandang Masih Mendera Warga Kota Padang

Menguatnya DXY menandakan aset berdenominasi dolar kembali diburu investor. Saat ketidakpastian global meningkat, pelaku pasar cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, dan dolar AS menjadi salah satu tujuan utama.

Kondisi ini kemudian menekan mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Rupiah melemah 0,42% ke level Rp16.830/US$ pada pagi ini, Senin (2/3/2026), setelah pada perdagangan sebelumnya melemah 0,06% di level Rp16.760/US$. Pelemahan juga terjadi pada mata uang Asia lainnya, mulai dari ringgit Malaysia hingga won Korea Selatan yang terpantau ikut melemah.

Dengan kata lain, jika tensi geopolitik terus meningkat, penguatan dolar AS berpotensi berlanjut. Dampaknya bukan hanya pada nilai tukar, tetapi juga dapat menambah tekanan di pasar keuangan negara berkembang yang sensitif terhadap arus modal dan perubahan selera risiko investor.

  1. Volatilitas di Pasar Saham Global
Baca Juga  30 Truk ODOL Ditertibkan Aparat di Sekitar Bundaran Tugu Songket

Eskalasi konflik geopolitik juga memicu volatilitas di pasar saham global. Ketika ketidakpastian meningkat, investor biasanya cenderung melepas aset berisiko seperti saham dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Akibatnya, bursa saham di berbagai kawasan bergerak di zona merah.

Pasar saham Asia pada Senin (2/3/2026) menjadi lautan merah. Indeks Nikkei 225 Jepang misalnya, terpantau turun 1,34% ke level 58.059,16 pada pukul 11.10 WIB.