SINDOTIME.COM-Komunitas Astronomi Sumatera Barat berkolaborasi dengan BMKG Stasiun Geofisika Padang Panjang menyelenggarakan kegiatan observasi Gerhana Bulan Total dalam tajuk Lunar Fest 2026 di kawasan Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi pada Selasa (3/3).
Acara yang dimulai sejak pukul 17.00 WIB tersebut dirancang sebagai ajang pengamatan sekaligus sarana edukasi astronomi terbuka bagi masyarakat.
Ratusan pengunjung memadati pelataran masjid untuk menyaksikan fenomena langit tersebut. Panitia menyediakan 10 unit teleskop yang dapat digunakan secara bergantian, layar live view untuk memantau fase gerhana, serta ruang diskusi interaktif yang membahas sains dan astronomi populer.
Selain itu, tersedia astro photobooth dan pameran astrofotografi guna memperkaya pengalaman visual serta memperkenalkan teknik dokumentasi benda langit kepada pengunjung.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Padang Panjang, Suaidi, menjelaskan bahwa rona merah yang tampak saat fase total bukanlah perubahan warna alami bulan. Fenomena tersebut terjadi akibat hamburan cahaya matahari oleh atmosfer bumi.
Dalam kondisi itu, bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi permukaan bulan. Cahaya dengan panjang gelombang biru lebih banyak terhambur, sementara cahaya merah tetap diteruskan dan dipantulkan ke bulan, sehingga menciptakan efek kemerahan yang sering disebut sebagai blood moon.
Secara astronomis, gerhana bulan total terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus atau konfigurasi segaris (syzygy). Secara nasional, puncak gerhana tercatat pada pukul 18.33 WIB. Namun di wilayah Sumatera Barat, fenomena tersebut baru dapat diamati sekitar pukul 19.00 WIB.





