Dalam pidatonya, Trump juga memuji kinerja Menteri Luar Negeri Marco Rubio, seorang politikus keturunan Kuba yang orang tuanya bermigrasi ke Amerika Serikat pada 1956.
Menurut Trump, Rubio telah bekerja dengan baik dalam menangani berbagai isu internasional, termasuk yang berkaitan dengan Kuba, sehingga kemungkinan akan memainkan peran penting dalam kebijakan Washington terhadap negara tersebut.
Spekulasi mengenai kemungkinan meningkatnya tekanan AS terhadap Kuba juga diperkuat oleh sejumlah pernyataan tokoh Partai Republik.
Senator Lindsey Graham, misalnya, menyebut bahwa Kuba dapat menjadi fokus kebijakan berikutnya setelah Iran, bahkan menyiratkan kemungkinan perubahan rezim di negara tersebut.
Sebelumnya, Trump juga mengklaim bahwa pemerintah Kuba sedang berada dalam tekanan ekonomi yang berat akibat sanksi dan pembatasan yang diberlakukan Washington, termasuk langkah untuk memutus aliran minyak dan dukungan finansial dari Venezuela.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pemerintah Havana semakin terdorong untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat.





