Kabar mengenai pemudik yang harus bermalam di jalan akibat macet total kini tinggal kenangan. Meski perjalanan belum sepenuhnya bebas hambatan karena lonjakan volume kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan, setidaknya arus lalu lintas tetap bergerak dan kondisinya jauh lebih terkendali.
Menyambut Mudik Lebaran 2026, pemerintah menyiagakan enam ruas tol fungsional baru untuk mengurai kepadatan. Di Pulau Jawa, empat ruas siap dioperasikan, meliputi Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (54,75 km), Tol Probolinggo–Banyuwangi (49,68 km), serta dua akses kunci di Jawa Tengah, Tol Jogja–Solo segmen Prambanan–Purwomartani (11,48 km) dan Tol Jogja–Bawen segmen Ambarawa–Bawen (4,85 km).
Sementara itu, di Pulau Sumatera diperkuat dengan tambahan 77,55 km jalan tol melalui Sigli–Banda Aceh Seksi 1 (21,95 km) serta ruas Palembang–Betung Seksi 1 dan 2 (53,6 km).
Pemudik yang memilih jalur tol dapat terhindar dari berbagai hambatan samping, mulai dari hiruk pikuk pasar tumpah dan aktivitas lalu lintas lokal, hingga moda transportasi tradisional seperti delman, becak, serta kepadatan sepeda motor.
Indikator keberhasilan mudik Lebaran kini perlu didefinisikan ulang. Tolok ukurnya bukan lagi sekadar kelancaran lalu lintas, melainkan sejauh mana pemudik beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, serta seberapa signifikan penurunan penggunaan sepeda motor untuk perjalanan jarak jauh.
Tingginya ketergantungan pada kendaraan pribadi sebenarnya berakar dari masih terbatasnya layanan transportasi umum di daerah tujuan. Tanpa konektivitas yang memadai di titik akhir (last mile), masyarakat merasa kendaraan pribadi adalah pilihan paling praktis untuk mobilitas di kampung halaman.




