Menurut analis dari German Marshall Fund, Kristina Kausch, tindakan tersebut memperkuat persepsi global bahwa Amerika Serikat semakin mengabaikan tatanan hukum internasional. Ia menilai langkah Washington mengirimkan sinyal bahwa pemerintah AS tidak lagi merasa perlu membangun legitimasi global sebelum melancarkan operasi militer.
Pandangan negatif terhadap kepemimpinan Trump juga semakin menguat di Eropa. Sebelumnya, Trump sempat memicu kontroversi dengan menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Greenland, wilayah yang berada di bawah kedaulatan Denmark—salah satu sekutu NATO.
Sejak kembali menjabat, Trump juga kembali menegaskan pendekatan kebijakan luar negeri bertajuk “America First”. Pendekatan ini ditandai dengan penarikan Amerika dari beberapa lembaga internasional serta penekanan yang lebih besar pada kepentingan nasional dibandingkan kerja sama multilateral.
Di sisi lain, mantan pejabat keamanan nasional AS, Nadia Schadlow, berpendapat konflik dengan Iran juga menunjukkan keterbatasan efektivitas lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mencegah perang. Menurutnya, dalam banyak kasus negara tetap mengambil tindakan sepihak ketika merasa keamanan nasionalnya terancam.
Dukungan Sekutu yang Terbatas
Beberapa langkah sekutu AS menunjukkan sikap hati-hati terhadap operasi militer tersebut. Inggris, misalnya, hanya mengizinkan pesawat tempur Amerika menggunakan dua pangkalan militer di wilayahnya dengan syarat terbatas, yaitu hanya untuk kepentingan pertahanan di kawasan.
Sikap yang lebih tegas datang dari Spanyol. Perdana Menteri Pedro Sanchez menolak memberikan izin penggunaan pangkalan militer Spanyol oleh pasukan AS dan menyatakan bahwa konflik tersebut bukanlah perang yang melibatkan negaranya.





