Reaksi tersebut memicu ketegangan diplomatik. Presiden Trump dilaporkan mengecam kebijakan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer serta mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan Spanyol.
Kausch menilai perkembangan ini memperkuat kesan bahwa pemerintahan Trump memposisikan Amerika Serikat seolah berada di atas hukum internasional. Sikap tersebut, menurutnya, berpotensi memperdalam isolasi diplomatik AS sekaligus mengurangi “soft power” atau pengaruh non-militer negara tersebut di dunia.
Meski begitu, beberapa negara tetap menyatakan dukungan terhadap operasi militer tersebut. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, misalnya, memberikan dukungan terbuka. Sikap serupa juga datang dari pemerintah Argentina dan Paraguay.
Kanada mengambil posisi yang lebih moderat. Perdana Menteri Mark Carney menyatakan dukungan terhadap upaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir, namun tetap menyerukan penurunan eskalasi konflik. Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai serangan terhadap Iran bertentangan dengan hukum internasional.
Potensi Keuntungan bagi China
Sejumlah analis geopolitik juga menilai konflik ini dapat membawa keuntungan strategis bagi China. Peneliti dari Center for a New American Security, Jacob Stokes, menilai keterlibatan militer AS di Timur Tengah berpotensi menguras persediaan senjata yang seharusnya dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan konflik di kawasan Asia, khususnya terkait Taiwan.





